Skip to content Skip to sidebar Skip to footer
Hosting Unlimited Indonesia

Rubrik Skilled Communication (21st Century Learning Design)

Sebelum saya masuk ke pembicaraan terampil berkomunikasi (Skilled communication), 21st Century Learning Design yang dipaparkan oleh Erwin Harahap, M.Sc., MCE pada kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Microsoft Certified Educator 2021 yang diselenggarakan oleh Program Pengabdian Kepada Masyarakat LPPM-FMIPA Universitas Islam Bandung pada sesion ke-3 Minggu, 28 Maret 2021 ijinkan saya sadur cerita dari David Goleman penulis buku terlaris Emotional Intellegence yang di tulis ulang oleh Agus Ngermanto dalam bukunya Quantum Quotient (97; 2003) 

Skill Komunikasi
Ronald Carreno Pixabay

" Hari itu dua orang anak muda yang berteman sangat bahagia dengan wisuda kelulusannya, Roni lulus dengan nilai IPK terbaik hampir 4 dan teman baikknya Eko lulus dengan IPK baik, yaitu  3. Eko orangnya luwes ia dapat berteman dengan siapa saja, baik dengan Roni maupun lainnya. Namun Roni berbeda ia dapat berteman hanya dengan orang – orang tertentu saja meskipun ia orang pandai dibidang akademis.

Roni dan Eko memiliki nasib yang beruntung, keduanya mendapat pekerjaan ditempat yang sama namun Roni dengan nilai akademisnya yang tinggi memiliki gaji awal lebih bagus dibanding Eko, yaitu 1,5 kali lebih besar.

Sampai tahun kedua mereka bekerja, prestasi mereka berkembang tanpa ada hal aneh, namun masuk ke tahun ke 4 prestasi yang ditunjukkan Eko lebih bagus melampaui prestasi Roni, diukur berbagai aspek. Meskipun kita ketahui nilai akademis Roni lebih bagus disbanding Eko !, ternyata Eko memiliki keterampilan lain.

Eko adalah orang yang mampu berkawan secara fleksibel, terampil berkomunikasi dengan jelas dan luwes serta memiliki kompetensi yang memadai, selain itu Eko terampil membangun kerjasama /kolaborasi tim yang tangguh dan memiliki skill  komunikasi yang efektif baik dengan timnya maupun  divisi lainnya serta pihak luar.

Sebaliknya dengan Roni dia memiliki skill teknis yang brilian, tetapi sulit difahami dan  dikomunikasikan dengan anggota timnya apalagi dengan divisi lain dan pihak luar.  Berbagai proyek besar di selesaikan Roni sendirian, tanpa bantuan yang signifikan dari anggota timnya.

Kedua tim yang dipimpin Eko dan Roni  terus berkembang dan mendapat tugas dan tanggungjawab yang lebih besar. Tim Roni sangat tergantung kompetensi Roni, sedangkan Tim Eko  terbiasa dengan kerjasama tim dan kolaborasi diantara anggota tim  dibawah komando Eko.

Dalam beberapa proyek besar , Tim Ekolah yang mendapat kepercayaan lebih besar karena timnya mampu menjelaskan dengan baik segala kebijakan dan keputusan substantive  yang diambil, sedangkan tim Roni mengalami kesulitan komunikasi dan kerjasama tim yang tidak solid, walaupun secara teknis kemampuan kedua tim merata. 

Tetapi pihak luar cenderung mengambil keputusan untuk mempercayai tim Eko karena segala sesuatunya dapat difahami dan resikonya dapat diperhitungkan.

Sampai akhirnya Eko  diangkat menjadi pemimpin yang lebih besar tanggungjawabnya termasuk membawahi tim Roni.  Eko mendapat dukungan besar dari atasan, teman maupun bawahannya. 

Dan Ronipun bahagia dipimpin oleh Eko karena Ekolah yang bisa memahami ide-ide brilian Roni yang sulit dijelaskan kepada yang lainnya. 

Akhirnya mereka menjadi Tim yang hebat dan kompak dibawah pimpinan Eko, prestasi Eko melejit melampaui Roni dan Ronipun berkerbang berkat bantuan Eko."  


Semoga cerita nyata diatas membuka persfektif kita .

Howard Gardner, Profesor Pendidikan di Harvard mengatakan “ IQ hanya sebagian dari kecerdasan manusia, kecerdasan manusia jauh lebih besar dari sekedar IQ, manusia memiliki kecerdasan  multi  yang disebutnya dengan Multiple Intellegences"

Mutiple intellegences meliputi kecerdasan logis matematis, kecerdasan liguistik -verbal, kecerdasan visual spatial, kecerdasan musical. kecerdasan kinesthetic, kecerdasan emosional (intra personal dan interpersonal) ,kecerdasan naturalis, kecerdasan intuisi, kecerdasan moral , kecerdasan eksistensial, kecerdasan spiritual dan masih banyak lagi.

Skill komunikasi adalah salah satu kecakapan yang harus dikembangkan  sebagai kecakapan abad 21, sebagaimana di uraikan oleh Direktorat Pembinaan SMA Kemdikbud  dalam naskah “Model Implementasi Kecakapan abad 21 dalam pembelajaran” yang telah saya tulis pada "Pendidikan Abad 21 Apa dan Bagaimana (kemdikbud)", dan lanjutan  tulisan sebelumnya tentang Rubrik Kolaborasi,  silahkan cek kembali. 

Skilled Communication
Joseph Mucira Pixabay

Apa yang dimaksud Skilled Communication ?

Raymond Ross (1996) mendefiniskan komunikasi sebagai “proses menyortir, memilih, dan pengiriman simbol-simbol sedemikian rupa agar membantu pendengar membangkitkan respons/ makna dari pemikiran yang serupa dengan yang dimaksudkan oleh komunikator”. 

Ada 4 faktor skill komunikasi yang menjadi ciri dan menunjang kehidupan di abad 21 yaitu :
  • Perluasan komunikasi dengan menggunakan  teknologi  (Extended Communication) :  Perluasan komunikasi bukan hanya satu kalimat atau paragraph namun lengkap dan kompleks yang  dibutuhkan meliputi sekumpulan ide dan gagasan yang terkoneksi melalui serangkaian video atau slide presentasi yang saling terkoneksi.
  • Mampu berkomunikasi lewat berbagai media (Multimodal) ; memahami, mengelola dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan dan multimedia dengan menggunakan teknologi komunikasi saat ini (ICT), dan menggunakan lebih dari satu jenis mode atau alat komunikasi yang digunakan untuk mengkomunikasikan pesan yang koheren, sehingga dihasilkan pesan yang kuat  dan  bisa memberi makna serta dapat membangkitkan respon.
  • Mampu berkomunikasi  dengan contoh dan bukti (Supporting Evidence) ; Bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda serta mampu mengemukakan ide-ide kreatif secara konseptual dan praktikal dengan konsep-konsep atau pengetahuannya dalam situasi baru dan berbeda, baik dalam mata pelajaran terkait, antar mata pelajaran, maupun dalam persoalan kontekstual  yang dilengkapi dengan hipotesis (membuat prediksi) , sudut pandang atau menarik kesimpulan dari sekumpulan fakta atau rantai logika.
  • Mampu berkomunikasi untuk audiens tertentu (Particular Audience), pada abad ini komunikasi bukan hanya dalam satu bahasa tapi multi bahasa, dengan keterampilan tersebut dapat dengan mudah berkomunikasi dengan audien tertentu.  Karena tidaklah cukup bagi siswa untuk berkomunikasi dengan audiens umum di internet, mereka bisa berada dimana saja   dan harus bisa bergabung dengan komunitas-komunitas spesifik  dengan kelompok dalam pikiran dengan kebutuhan khusus sehingga dapat  membentuk komunikasi mereka dengan tepat.

Rubrik dan Pohon Keputusan Skilled Communication 

Berikut ini rubrik yang bisa di jadikan patokan para pendidik dalam pembelajaran sehingga dapat  mengukur tingkat dan level Skill komunikasi yang bisa dikembangkan :

Decicion tree of Skilled Communication



Maju Terus Pendidikan Indonesia

Refferensi :


Ai Deti Heryanti
Ai Deti Heryanti Guru IPA SMPN 4 SUMEDANG,

2 comments for "Rubrik Skilled Communication (21st Century Learning Design)"

  1. Wah, saya jadi semakin open minded. Trmksh atas pohon keputusannya Bu.
    Salam hangat dari Curup, Bengkulu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Happy sharing, seneng dengar bengkulu, tahun 2018 saya pernah ke MGMP IPA di SMPN 5 Bengkulu, salam juga untuk bengkulu

      Delete

Jangan lupa tinggalkan komentar sebagai alat silaturahmi dan jika bermanfaat bisa saudara share,Sukses selalu

Menginformasikan seputar Pendidikan, Forum Ilmiah,Lesson Study, Jurnal dan Publikasi ilmiah,sebagai wahana terus belajar sepanjang hayat.
mohon maaf atas ketidaknyamanan tampilan blog dikarenakan masih ada kendala perbaikan id dalam verifikasi id google adsense,
Video dan atau Gambar di situs www.gurusumedang.com kadang berasal dari sumber media lainnya, HAK CIPTA sepenuhnya dipegang media tersebut.

Dapatkan artikel otomatis via Email