google-site-verification: google4ea25410b2d7324e.html Rubrik Kolaborasi (21st Century Learning Design) Sebagai Kecakapan Pendidikan Abad 21 - GURU SUMEDANG
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Rubrik Kolaborasi (21st Century Learning Design) Sebagai Kecakapan Pendidikan Abad 21

Sebuah kolaborasi merupakan kerjasama, namun tidak semua kerjasama disebut kolaborasi.

isi artikel :

  • Kolaborasi
  • Rubrik Kolaborasi dan pohon keputusan Kolaborasi
  • Pembelajaran Kolaborasi di Indonesia


Pada artikel sebelumnya disebutkan bahwa Ciri Pendidikan abad 21 sedikitnya memuat beberapa skill yang harus di kuasai  diantaranya :

  1. kolaborasi (Collaboration)
  2. komunikasi yang terampil (Skilled communication)
  3. konstruksi pengetahuan (Knowledge contruction)
  4. regulasi diri (self regulation)
  5. pemecahan masalah dan inovasi dunia nyata (Real world problem solving and innovation)
  6. penggunaan ict untuk belajar (Use of ICT for learning)

Kolaborasi 21st Century Learning Design
Gelt Altmann Pixabay.com


Memenuhi janji  saya pada artikel sebelumnya, dibawah ini paparan buah tangan dari Pendidikan dan Pelatihan persiapan sertifikasi MCE yang diselenggarakan oleh Tim pelaksana FMIPA LPPM UNISBA Diklat MCE 2021, tulisan kedua oleh-oleh ini saya beri judul “ Rubrik kolaborasi (21 st century learning design) sebagai kecakapan pendidikan abad 21”

KOLABORASI 

Kolaborasi dalam proses pembelajaran adalah suatu bentuk kerjasama dan kompromi antara elemen yang terkait baik individu, kelompok atau pihak-pihak yang terlibat secara langsung atau tidak langsung dimana  satu sama lain saling membantu dan melengkapi (berinteraksi) dalam melakukan tugas-tugas tertentu agar diperoleh suatu tujuan yang telah ditentukan, dimana mereka menerima manfaat dan akibat.

Kecakapan terkait dengan kolaborasi dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut ;

  1. memiliki kemampuan dalam kerjasama berkelompok 
  2. beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab, bekerja secara produktif dengan yang lain. 
  3. dalam interaksinya mereka saling berempati dan menghormati perspektif berbeda, serta membuat keputusan bersama. 
  4. mampu berkompromi dan saling tergantung dengan anggota yang lain dalam kelompok demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan

Sebelum lebih lanjut  membahas kolaborasi, supaya lebih cair dan enak menyimaknya silahkan telaah terlebih dahulu Video tentang Kolaborasi dari MCE berikut ini :

Bagaimana ? semoga membuka wawasan kita semua.

Dan untuk mengetahui unjuk kerja   dari siswa, apakah kerjasamanya itu sebuah kolaborasi atau bukan , sedikitnya ada 4 pertanyaan yang harus dijawab dan bisa dijadikan ukuran yaitu :

1. Apakah mereka melakukan kerjasama ?

Siswa bekerja bersama-sama  (working together) ketika kegiatan menuntut mereka untuk bekerja secara berpasangan atau berkelompok , baik mendiskusikan, memecahkan masalah atau membuat sebuah produk, selain secara langsung face to face mereka juga mampu bekerjasama walaupun berjauhan jaraknya alias secara daring , ia mampu menggunakan berbagai media untuk berkerjasama secara jarak jauh dengan  menggunakan  ICT seperti saat ini misalnya menggunakan Skype, zoom, google meet dan moda lainnya

Beberapa siswa berdiskusi tentang topik “ bagaimana menanamkan disiplin menggunakan protocol kesehatan dalam mencegah penyebaran covid-19” kemudian mereka juga berdiskusi  dengan temannya dari beberapa negara lain menggunaan skype/zoom/meet atau moda lainnya. 

Sebuah kolaborasi sudah pasti kerjasama, namun setiap kerjasama tidak bisa selalu disebut sebuah kolaborasi.

2. Apakah mereka berbagi tanggungjawab ?

Siswa saling berbagi tanggung jawab ( shared responsibility ) ketika mereka  bekerja berpasangan atau kelompok untuk mengembangkan sebuah produk, membuat sebuah rancangan dan saling memberi tanggapan akan hal tersebut.

Saling berbagi tanggungjawab lebih dari sekedar membantu satu sama lain, masing-masing siswa harus berperan dan secara kolektif memiliki pekerjaan masing-masing yang telah ditentukan dan  bertanggung jawab langsung atas hasilnya.

sebagai contoh :

Seorang siswa bekerja dengan rekannya di negara lain untuk mengembangkan situs web gabungan menggunakan tool dan moda teknologi ICT, diantara mereka saling berdiskusi dan memberi umpan balik untuk menghasilkan situs web bersama-sama secara maksimal.

 3. Apakah mereka membuat sebuah keputusan penting ?

Anggota kelompok membuat keputusan substantif bersama (substantive decision making) ketika mereka harus menyelesaikan masalah penting yang akan memandu dan menentukan arah mereka saat mereka bekerja sama.

keputusan substantif adalah keputusan apapun yang berhubungan dalam megembangkan dan  membentuk  isi, proses, atau produk proyek yang mereka kerjakan.

  • Isi : siswa harus menggunakan pengetahuan /wawasan mereka tentang suatu masalah untuk membuat keputusan yang mempengaruhi konten akademis dari pekerjaan mereka bersama.
  • Proses: siswa harus merencanakan apa yang akan mereka lakukan, kapan melakukannya, alat apa yang mereka gunakan, atau peran dan pembagian tanggung jawab anggota  tim
  • produk: siswa harus membuat keputusan desain mendasar yang mempengaruhi sifat dan kegunaan produk mereka

sebagai contoh :

siswa bekerja sama dalam menganalisis sikap dan reaksi  beberapa negara terhadap virus Copid 19,  tiap anggota tim mengumpulkan informasi dari berita online dan menganalisanya kemudian hasilnya digabungkan dan didiskusikan baik persamaan dan perbedaan sikap dan respon masing masing negara, kemudian mereka juga memutuskan memilih skema warna dan thema untuk templet presentasi laporan mereka.  

4. Apakah mereka saling tergantung satu sama lain  ?

Sebagai contoh saling tergantung satu sama lain (interdependence) anggota kelompok praktikum saling berbagi tugas, masing-masing meneliti anatomi dan fisiologi katak ( ada siswa yang mengamati sirkulasi , ada yang mengamati  pencernaan, eksresi  dll), kemudian mereka bersama-sama membedah katak dan menulis laporan praktikumnya, mengenali bagian-bagian katak dan sistem  yang mereka amati masing masing dalam satu laporan bersama, sehingga menjadi sebuah laporan yang utuh.

RUBRIK KOLABORASI

Untuk mengukur sejauh mana "kerjasama peserta didik " merupakan sebuah kolaborasi silahkan amati ciri-ciri pada rubrik dan pohon keputusan Kolaborasi dibawah ini :  

Rubrik Kolaborasi


Pohon keputusan kolaborasi

Contoh soal simulasi  kolaborasi,  pada level berapakah kerjasama berikut ini ?
  1. Apakah ya atau bukan ! Siswa anda bekerja dalam kelompok dengan tiga anggota untuk meneliti planet-planet di tata surya dan mempresentasikan temuan mereka sesuai pilihan. Penyusunan laporan akan jatuh tempo dalam tiga minggu. Sekelompok siswa menggunakan Aplikasi Microsoft Teams untuk memantau keseluruhan kemajuan grup, bekerja sama untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi kelompok, dan menentukan apa yang harus dikerjakan. Mereka bekerja sama membuat poster dan presentasi. Semua siswa harus berkontribusi dengan adil. Apakah kegiatan diatas merupakan implementasi dari KOLABORASI kode 5?   Ya betul kerja sama ini  adalah kolaborasi level dengan kode 5 karena mereka saling bekerjasama, berbagi tanggung jawab, membuat keputusan substantif, dan saling tergantung/ interdependent) 
  2. Siswa terlibat dalam diskusi kelas tentang masalah pencemaran di lingkungan tempat tinggal mereka. Semua siswa harus berpartisipasi. ( di kode / level berapakah  kegiatan pembelajaran tersebut) ?  pada kerjasama kondisi diatas siswa bekerjasama dan berpartisipasi namun tidak ada proses berbagi tanggungjawab dan membuat keputusan substantif dalam proyeknya serta satu sama lain tidak tergantung pada anggota tim lainnya)  sehingga kerjasama ini berada di level dengan kode 2

PEMBELAJARAN KOLABORASI DI INDONESIA

Prof. Sumar Hendayana,Ph.D (Presiden ALSI) menyampaikan penelitiannya tentang inquiry dan kolaborasi pada pembelajaran di beberapa sekolah di IndonesIa dan hasilnya di paparkan pada seminar ICLS ke 7 tahun 2019 di Thailand. 

Beliau menganalisis aktivitas inkuiri dan kolaboratif  beberapa pelajaran matematika di SD dan SMP, kemudian Video pembelajarannya ditranskripsikan untuk analisis lebih lanjut. 

Hasilnya Guru-guru tersebut telah mempraktikkan LSBS selama enam tahun dan terlibat secara kolaboratif dalam merancang, mengamati, dan merefleksikan pelajaran. 

Inisiatif guru mengkonsultasikan rancangan desain pelajaran melalui email / WhatsApp kepada pendidik guru untuk mendapatkan umpan balik. Rancangan pelajaran yang direvisi diimplementasikan di kelas nyata, kemudian pelajaran direkam sebagai video dan perekam suara, yang kemudian ditranskrip untuk tujuan analisis.

Diketahui bahwa guru memfasilitasi siswa dengan masalah tantangan untuk dipecahkan dengan beberapa cara. Guru mendorong siswa yang lebih lambat untuk meminta bantuan teman sekelas mereka yang lebih cepat. 

Guru cukup sabar untuk mendukung dan mempercayai siswa untuk membiarkan mereka membantu dan belajar dari satu sama lain dengan menahan diri untuk tidak memberikan banyak instruksi. Terakhir, siswa dapat menyelesaikan masalah dengan beberapa cara. Para guru terkejut ketika siswanya menemukan solusi yang tidak terduga.
  • Tunggu review lanjutan tentang 21st Century learning Design di www.gurusumedang.com
  • Terimakasih  para pemateri dan TIM FMIPA LPPM UNISBA atas semua pencerahannya 

Refferensi :
Maju Terus Pendidikan Indonesia

Panggil saja ADH
Panggil saja ADH "Hebatnya seorang guru karena mendidik, dan rekreasi paling indah adalah mengajar" (KH Maimoen Zubair)

Post a Comment for " Rubrik Kolaborasi (21st Century Learning Design) Sebagai Kecakapan Pendidikan Abad 21"

Video dan atau Gambar di situs www.gurusumedang.com kadang berasal dari sumber media lainnya, HAK CIPTA sepenuhnya dipegang media tersebut.