Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

CTL Sebagai Pendekatan Pembelajaran

Contextual Teaching and Learning /CTL  sebagai Pendekatan Pembelajaran atau dikenal dengan Pendekatan Pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang membantu guru dalam mengkaitkan materi ajar dengan kehidupan nyata, dan memotivasi peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dipelajarinya dengan kehidupan mereka.  Melalui pembelajaran kontekstual diharapkan konsep-konsep materi perkuliahan dapat diintegrasikan dalam konteks kehidupan nyata dengan harapan peserta didik dapat memahami apa yang dipelajarinya dengan baik dan mudah.


Pembelajaran kontekstual telah berkembang  di negara-negara maju  dengan berbagai nama. Di Belanda berkembang apa yang  disebut  dengan Realistic  Mathematics Education (RME) yang menjelaskan bahwa pembelajaran  matematika harus dikaitkan  dengan kehidupan nyata peserta didik. 

Di Amerika berkembang apa yang disebut Contextual Teaching and Learning (CTL) yang intinya membantu dosen/guru/guru untuk mengkaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata dan memotivasi  peserta didik untuk mengkaitkan pengetahuan yang dipelajarinya dengan kehidupan mereka. Sementara itu di Michigan  juga berkembang Connected  Mathematics Project (CMP) yang bertujuan mengintegrasikan  ide matematika ke dalam konteks kehidupan nyata  dengan harapan peserta didik dapat memahami  apa yang dipelajarinya dengan baik dan mudah.



Perbedaan Pembelajaran kontekstual  dengan pembelajaran konvensional   

Konvensional Kontekstual (CTL)
Menyandarkan kepada hapalan Menyandarkan pada memori spacial
pemilihan informasi di tentukan oleh guru pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan individu peserta didik
Cenderung terfokus hanya pada disiplin tertentu mengintegrasikan beberapa bidang disiplin
Memberikan tumpukan informasi kepada perserta didik sampai pada saatnya diperlukan Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan awal yang telah di miliki peserta didik
Penilaian hasil belajar hanya melalui kegiatan akademik berupa ulangan/ujian
Menerapkan penilaian Autentik melalui penerapan praktis dalam pemecahan masalah

beberapa penelitian  aktual di bidang ilmu kognitif (cognitive science) dan teori-teori tentang tingkah laku (behavior theories) yang mendasari konsepsi dan proses pembelajaran kontekstual, antara lain:

  1. Konstruktivisme berbasis pengetahuan (Knowledge-Based constructivism) – Baik instruksi langsung maupun kegiatan konstruktivis dapat sesuai dan efektif didalam pencapaian tujuan belajar peserta didik (Resnick dan Hall, 1998).
  2. Pembelajaran berbasis usaha / teori pertumbuhan  kecerdasan (Effort-Based Learnnig/Incremental Theory of Intellegence) – Peningkatan usaha seseorang untuk menghasilkan peningkatan kemampuan. Teori ini berlawanan dengan gagasan bahwa kecerdasan seseorang tidak dapat  diubah. Bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar akan motivasi seseorang untuk terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan komitmen untuk belajar.  
  3. Sosialisasi (Socialization) – Anak-anak mempelajari standar, nilai-nilai, dan pengetahuan kemasyarakatan dengan mengajukan berbagai pertanyaaan dan menerima tantangan  untuk menemukan solusi yang tidak segera terlihat, bersama-sama dengan penjelasan konsep, pembenaran pemikiran mereka, dan pencarian informasi. Sesungguhnya, belajar adalah proses sosial, oleh karenanya faktor sosial dan budaya perlu diperhatikan selama perencanaan pengajaran. Sifat dasar sosial dari belajar juga mengendalikan penentuan tujuan belajar ( Borko dan Putnam, 1998 ).
  4. Pembelajaran situasi (Situated Learning) – pengetahuan dan belajar dikondisikan  dalam fisik tertentu dan konteks sosial. Serangkaian tatanan yang mungkin dipergunakan seperti rumah, masyarakat, tempat kerja, akan tergantung pada tujuan pengajaran dan tujuan  pembelajaran yang di harapkan.
  5. Pembelajaran distribusi (Distributed Learning) - pengetahuan mungkin di pandang sebagai pendistribusian dan penyebaran (Lave, 1988) individu, orang lain, dan berbagai benda (artifacts) seperti alat-alat fisik dan alat-alat simbolis (Solomon, 1993), dan bukan semata-mata sebagai suatu kekayaan individual. Dengan demikian, manusia merupakan  suatu bagian terintegrasi dari proses belajar, harus berbagai pengetahuan dan tugas-tugas (Borko dan Putman, 1998).

The Northwest Region   Education Laboratory  USA mengidentifikasikan 6 kunci  dasar pembelajaran  kontekstual,  :

  1. Pembelajaran bermakna : pemahaman, relevansi,  dan penilaian pribadi  sangat terkait dengan  kepentingan peserta didik. Didalam mempelajari  isi materi ajar. Pembelajaran dirasakan  terkait  dengan  kehidupan  nyata atau peserta didik mengerti manfaat isi pembelajaran, jika mereka merasakan berkepentingan  untuk belajar demi kehidupannya  dimasa mendatang. Prinsip ini sejalan dengan, pembelajaran bermakna (Meaningful  Learning) yang diajukan Ausuble )
  2. Penerapan pengetahuan,  ada kemampuan peserta didik untuk  memahami  apa yang dipelajari dan diterapkan  dalam tatanan kehidupan   dan fungsi dimasa sekarang  atau masa depan.
  3. Berpikir tingkat tinggi ;  peserta didik diwajibkan untuk memanfaatkan  berpikir kritis dan berpikir kreatifnya  dalam pengumpulkan data, pemahaman suatu isu dan pemecahan suatu masalah.
  4. Kurikulum yang dikembangkan berdasar standar :  Isi pembelajaran harus dikaitkan  dengan standar lokal, profinsi, nasional, perkembangan ilmu dan teknologi  serta dunia kerja.
  5. Responsif  terhadap budaya  : guru harus memahami dan menghargai nilai, kepercayaan, kebiasaan peserta didik,  teman pendidik,  dan masyarakat tempat ia mendidik. Ragam individu dan budaya suatu kelompok  serta hubungan antar  budaya tersebut akan mempengaruhi  pembelajaran dan  sekaligus akan berpengaruh terhadap cara mengajar guru.  Setidaknya ada 4 hal yang perlu  diperhatikan didalam  pembelajaran kontekstual, yaitu  individu peserta didik, kelompok,  peserta didik baik sebagai tim atau keseluruhan kelas, tatanan komunikasi kelas.
  6. Penilaian autentik ; penggunaan berbagai strategi penilaian  ( misalnya penilaian proyek / tugas terstruktur, kegiatan peserta didik, penggunaan portofolio, rubrik, daftar cek, pedoman observasi, dsb ) akan merefleksikan hasil belajar sesungguhnya.  

Sehubungan dengan itu maka pendekatan pengajaran kontekstual (CTL) menekankan  pada hal-hal berikut :

  1. Belajar berbasis Masalah ( Problem – Based Learning ), yaitu suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan  masalah dunia nyata sebagai  suatu konteks  bagi peserta didik untuk belajar   tentang berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah,  serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang  esensi dari materi perkuliahan. 
  2. Pengajaran Autentik (Authentic Instruction)  yaitu pendekatan pembelajaran yang  memperkenankan peserta didik untuk mempelajari  konteks bermakna, Ia mengembangkan ketrampilan berpikir  dan pemecahan  masalah yang penting didalam konteks kehidupan nyata.
  3. Belajar Berbasis Inquiri (Inquiry – Based – Learning)  yang membutuhkan strategi  pengajaran   yang mengikuti metodologi sains   dan menyediakan kesempatan  untuk pembelajaran bermakna.
  4. Belajar Berbasis Proyek / Tugas Terstruktur (Project  - Based Learning)  yang membutuhkan suatu pendekatan  pengajaran komprehensif  dimana lingkungan belajar peserta didik (kelas) didesain  agar peserta didik  dapat melakukan  penyelidikan terhadap   masalah autentik  termasuk pendalaman materi  dari suatu topik mata perkuliahan, dan melaksanakan tugas bermakna   lainnya. (Buck Institute for Education, 2001)
  5. Belajar Berbasis Kerja (Work – Based Learning) yang memerlukan suatu pendekatan pengajaran yang memungkinkan  peserta didik menggunakan konteks   tempat kerja untuk mempelajari  materi perkuliahan  berbasis perguruan tinggi dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali di dalam tempat kerja. Jadi dalam hal ini tempat kerja  atau sejenisnya  dan berbagai aktivitas  dipadukan dengan materi perkuliahan untuk kepentingan peserta didik (Smith, 2001).
  6. Belajar Jasa Layanan (Service  Learning) . Pendekatan ini   menyajikan suatu  penerapan praktis dari pengetahuan baru yang diperlukan dan berbagai ketrampilan untuk memenuhi kebutuhan didalam masyarakat melalui proyek / tugas terstruktur dan kegiatan lainnya. (Mc Pherson, 2001)
  7. Belajar Kooperatif (Cooperative Learning) yang memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil  peserta didik untuk bekerjasama  dalam memaksimalkan  kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar (Holubec, 2001)

Berkaitan dengan faktor kebutuhan  individual peserta didik maka untuk menggunakan metode  pendekatan kontekstual  guru harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran  perkembangan mental (Developmentally approriate) peserta didik. 
  2. Membentuk grup belajar  yang saling tergantung (interdependent learning groups). 
  3. Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri (Self  Regulated Learning)  yang memiliki 3 karakteristik umum, yaitu  kesadaran berpikir,  penggunaan strategi dan  motivasi  berkelanjutan. 
  4. Mempertimbangkan keragaman peserta didik (diversity of students). 
  5. Memperhatikan  multi  intelegensi  (Multiple Intellegences) peserta didik. 
  6. Menggunakan  teknik-teknik bertanya   yang meningkatkan pembelajaran peserta didik, perkembangan pemecahan masalah dan ketrampilan berpikir tingkat tinggi. 
  7. Menerapkan penilaian autentik (Authentic Assesment). 

Berkaitan dengan  faktor peran guru,  agar proses pengajaran kontekstual dapat lebih efektif kaitannya dengan pembelajaran  peserta didik, guru diharuskan merencanakan, mengimplementasikan, merefleksikan dan menyempurnakan pembelajaran. Untuk keperluan itu, guru harus melaksanakan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh peserta didik.
  2. Memahami latar belakang dan pengalaman hidup peserta didik melalui proses pengkajian secara seksama.
  3. Mempelajari lingkungan perguruan tinggi dan tempat tinggal peserta didik, selanjutnya memilih dan mengkaitkannya dengan konsep  atau teori yang akan dibahas  dalam proses pembelajaran kontekstual.
  4. Merancang pengajaran    dengan mengkaitkan  konsep atau  teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki peserta didik dan lingkungan kehidupan mereka.
  5. Melaksanakan pengajaran dengan selalu mendorong peserta didik untuk mengkaitkan apa yang sedang dipelajari dengan pengetahuan / pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dan mengkaitkan apa yang dipelajarinya dengan fenomena  kehidupan sehari-hari. Selanjutnya peserta didik didorong untuk membangun kesimpulan  yang merupakan pemahaman peserta didik   terhadap konsep / teori yang sedang dipelajarinya.
  6. Melakukan penilaian terhadap pemahaman peserta didik. Hasil penilaian tersebut  dijadikan sebagai bahan refleksi  terhadap rancangan  pembelajaran dan pelaksanaannya.

Strategi Guru dalam Penerapan CTL

Sementara itu, Center for Occupation Ressearch and Development  (CORD) menyampikan  5 strategi bagi pendidik  dalam  rangka   penerapan pembelajaran kontekstual, yang disingkat dengan REACT, yaitu :

  1. Relating ; belajar dikaitkan dengan konteks  pengalaman kehidupan nyata.
  2. Experiencing: belajar ditekankan kepada penggalian  (eksplorasi), penemuan (discovery), dan penciptaan (invention)
  3. Applying: belajar bilamana pengetahuan dipresentasikan didalam konteks pemanfaatannya.
  4. Cooperating: belajar melalui konteks  komunikasi interpersonal, pemakaian bersama, dsb.
  5. Transferring: belajar melalui pemanfaatan pengetahuan  didalam situasi  atau konteks baru.

Melalui landasan filosofi kontruktivisme, CTL dipromosikan menjadi alternatif strategi belajar yang baru. Melalui strategi CTL, peserta didik diharapkan belajar melalui “mengalami” bukan “menghafal”.

Nurhadi (2002) mengemukakan bahwa pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama, yaitu: 

  1. kontruktivisme (contructivism), 
  2. bertanya (questioning), 
  3. menemukan (inquiri), 
  4. masyarakat belajar (learning community), 
  5. pemodelan (modeling), 
  6. refleksi (reflection), 
  7. dan penilaian sebenarnya (authentic assesment). 

Sedangkan menurut Zahoric (Nurhadi, 2002), ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktek pembelajaran kontekstual, yaitu:

  1. pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activaing knowledge)
  2. perolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge)    
  3. pemahaman pengetahuan (understanding knowledge)
  4. mempraktekan pengetahuan dan pengalaman (appying knowledge)
  5. melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.

Penilaian Pada Pendekatan kontekstual

Penilaian autentik sesungguhnya adalah suatu istilah/terminologi yang diciptakan untuk menjelaskan berbagai metode penilaian alternatif. Berbagai metode tersebut memungkinkan peserta didik dapat mendemonstrasikan kemampuannya untuk menyelesaikan tugas-tugas, memecahkan masalah, atau mengekspresikan pengetahuannya dengan cara mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam dunia nyata di luar lingkungan perguruan tinggi (Hymes, 1991). Berbagai simulasi tersebut semestinya dapat mengekspresikan prestasi (performance) yang ditemui di dalam praktek dunia nyata seperti tempat kerja. Penilaian autentik seharusnya dapat menjelaskan bagaimana peserta didik menyelesaikan masalah dan dimungkinkan memiliki lebih dari satu solusi yang benar. Strategi penilaian yang cocok dengan kriteria yang dimaksudkan adalah suatu kombinasi dari beberapa teknik penilaian sebagai berikut :

  1. Penilaian kinerja (Performance assessment)
  2. Observasi sistematik (System Observation),.
  3. Portfolio (Portfolio) .
  4. Jurnal sains (Journal) .

.Ada  2 bentuk jurnal, yaitu :

  • Jurnal arahan pribadi (Self-directed jurnaling), dimana peserta didik akan      menetukan topik, isi dan arah kemana refleksi akan diambil.
  • Jurnal arahan dosen/guru/guru (teaher-directed jurnaling) akan mengarahkan respon     dari refleksi mendekati tujuan khusus outcome atau topik.

Menurut Darling-Hammond dan Snyder (1998), penilaian autentik sebagai penilaian telah memenuhi 5 kondisi, sebagai berikut :

  1. Penilaian mewakili pengetahuan yang sebenarnya, ketrampilan dan bentuk keinginan peserta didik.
  2. Penilaian terkait erat dengan kesempatan belajar dan sesuai dengan isi program, outcome yang diinginkan dan pelaksanaan pengajaran.
  3. Ada berbagai kesempatan berganda untuk belajar, latihan, dan penilaian outcome yang diinginkan, sehingga penilaian membantu mengembangkan kompetensi bukan hanya mengukurnya. 
  4. Penilaian mencakup umpan balik dan berbagai bentuk refleksi.

Pembelajaran Kontekstual (CTL) hanyalah sebuah pendekatan pembelajaran, seperti halnya pendekatan pembelajaran yang lain, pembelajaran kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna. Pendekatan Pembelajaran 

Pendekatan lainya :
  • Macam - macam pendekatan pembelajaran DISINI
  • Pendekatan Saintifik  DISINI

Salam Sukses Guru Indonesia

Sumber Rujukan :
Materi Bintek Fasilitator dan Instruktur Kurikulum 2013 Mapel IPA Kemdikbud 2017
Panggil saja ADH
Panggil saja ADH "Hebatnya seorang guru karena mendidik, dan rekreasi paling indah adalah mengajar" (KH Maimoen Zubair)

Post a Comment for "CTL Sebagai Pendekatan Pembelajaran"

Video dan atau Gambar di situs www.gurusumedang.com kadang berasal dari sumber media lainnya, HAK CIPTA sepenuhnya dipegang media tersebut.
Masukan Email Anda, agar tidak tertinggal & menerima artikel perkembangan Pendidikan terbaru :