Skip to content Skip to sidebar Skip to footer
Hosting Unlimited Indonesia

Pendekatan Coaching Didunia Pendidikan dalam Program Sekolah Penggerak Kemdikbud 2021


The right person in the right place  adalah hasil pembinaan dan bukan merupakan  hasil perekrutan
Pada hari ini Selasa / 6 April 2021 dit.p3gtk.kemdikbud mengumumkan proses seleksi tahap 1 dari 21.388 kepala sekolah yang mengikuti seleksi, sebanyak 5.019 kepala sekolah lolos ke tahap berikutnya untuk menjadi  sekolah penggerak. 
coaching one to one
Gert Altmann Pixabay.com

Dalam program sekolah penggerak ini terdapat 5 tahap yang harus dilalui yaitu :
  1. pendampingan konsultatif dan asimetris, dengan pendampingan konsultatif dan asimetris, Kemendikbud melalui unit pelaksana teknis (UPT) di masing masing provinsi akan memberikan pendampingan bagi pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota dalam perencanaan Program Sekolah Penggerak. 
  2. penguatan terhadap SDM sekolah yang melibatkan kepala sekolah, pengawas sekolah, penilik, dan guru. Bentuk penguatan tersebut meliputi pelatihan dan pendampingan intensif (coaching one to one) dengan pelatih ahli yang disediakan oleh Kemendikbud. 
  3. melakukan pembelajaran dengan paradigma baru yakni merancang pembelajaran berdasarkan prinsip yang terdiferensiasi sehingga setiap siswa belajar sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya. 
  4. manajemen berbasis sekolah di mana yang dilakukan berdasarkan refleksi diri satuan pendidikan. 
  5. digitalisasi sekolah yaitu penggunaan berbagai platform digital yang mengurangi kompleksitas, meningkatkan efisiensi, menambah inspirasi, dan pendekatan yang disesuaikan.  
Yang ingin saya soroti pada kesempatan kali ini bukan kepada program Sekolah penggeraknya, namun kepada pendekatan yang dilakukan oleh kemdikbud pada tahap 2 investasi sekolah pengerak yaitu Penguatan terhadap SDM sekolah mulai dari kepala sekolah, pengawas sekolah, penilik dan guru yang menggunakan pendekatan  Coaching dalam program sekolah penggerak kemdikud 2021.

5 intervensi program sekolah penggerak

Penggunaan istilah coaching dalam dunia Pendidikan adalah pendekatan yang baru,  sebab selama ini proses penguatan SDM di dunia pendidikan biasanya dengan pendekatan : Pendidikan dan pelatihan (diklat) ; In house Training, (IHT), Workshop, dan Training on trainer (TOT), Program  Pendampingan; dan sederat istilah pelatihan lainnya.

Itu semua baru satu bagian saja dalam proses coaching, namun tidak menyeluruh dan dilakukan hanya dalam waktu yang singkat sehingga tidak bisa dipastikan perubahan yang menyeluruh untuk seluruh elemen,  sedangkan proses coaching adalah pendekatan yang holistik dari berbagai segi dan situasi serta dalam jangka waktu yang panjang sehingga wajar pogram sekolah penggerak ini berjalan selama 3 tahun. 

So jangan beranjak, tuntaskan membacanya sampai habis, sehingga apa dan bagaimana coaching bisa dipahami, selamat membaca....
Penulis sendiri mendengar istilah coaching dalam dunia Pendidikan pertama kali dari pernyataan Dr. Dwayne Harapnuik tim ahli pembelajaran online dari Vancouver Community College(VCC) Canada yang menjadi nara sumber pada webinar internasional yang diselenggarakan oleh SEAMEO QITEP in science pada tanggal 25 Nopember 2020 dengan judul  Competencies and Strategies on Online Teaching 

Dr Dwane  mengemukakan ada 5 hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran online sehingga berjalan efektif, pada poin ketiga dari lima hal tersebut dia menyatakan “ Facilitating online learning means I have to stop trying to control my students and start coaching them”  , yaitu ketika memfasilitasi pembelajaran online guru  harus berhenti mencoba mengendalikan siswa  namun mulai melatih mereka, dengan hanya mengarahkan dan mendorong (Coaching them) mereka sehingga pembelajaran berpusat pada siswa. 

Kita akan mudah memahaminya manakala melihat apa yang dilakukan para pelatih kepada para atletnya, karena istilah dan pendekatan coaching selama ini dipakai coach/pelatih para atlet.  mereka hanya mengarahkan dan mendorong serta mendampingai secara berkelanjutan dengan pendekatan emosional kepada atlitnya sehingga potensinya berkembang ke titik optimumnya dan mampu mencapai kompetensi yang harus dikuasainya.

Nah untuk memahami apa itu Coaching dalam dunia Pendidikan saat ini, saya coba hantarkan untuk memahami Coaching one to one sebagai pendekatan yang digunakan oleh Kemdikbud dalam program Sekolah penggerak.

Pengertian Coaching

Coaching adalah mengarahkan dan mendorong, yaitu proses pendampingan yang berkelanjutan dan menyeluruh (holistik) sehingga menciptakan kesempatan bagi yang menerima pendampingan (Coachee) untuk dapat mengeksplorasi potensi diri dan memaksimalkan diri  tahap demi tahap, sehingga mencapai tujuan (goal)  yang telah ditetapkan. 
Sehingga wajar program sekolah penggerak ini berdurasi panjang yaitu selama 3 tahun berjalan secara tidak terputus. 

Coach = pembimbing ; Coachee = yang dibimbing ; Coaching = Proses/tahapan dalam pembimbingan 
Secara singkat coaching oleh Mary Parker Follet didefinisikan sebagai “the art of get things done through other people”yaitu seni mendampingi dan mendorong seseorang untuk menyelesaikan dan mencapai  tujuan (goal) yang telah ditentukan. 

Coachee tidak cukup hanya diberitahu bagaimana melakukan suatu tugas, namun terus didampingi dan didorong sehingga terjalin komunikasi harmonis dan saling percaya antara coach dengan coachee.

Coaching yang sukses selalu melibatkan usur-unsur dukungan pribadi, (one to one) tantangan individual dan bantuan teknis yang diikat oleh ikatan emosional itulah yang terjadi antara atlet dengan pelatihnya. 

Sehingga “the other people ” tidak  lagi diperlakukan seolah-olah mesin atau robot tanpa perasaan, namun mereka adalah orang-orang yang akan mensukseskan program dan goal institusi/Lembaga/perusahaan yang memiliki aspek emosional yang menjadi bagian penting untuk dipertimbangkan.

tahapan dan target Sekolah Penggerak

Dalam istilah lain Coaching one to one yang dilakukan kemdikbud adalah proses interaktif antara coach (pendamping ahli kemdikbud)  dan coachee (kepala sekolah, guru,pengawas) untuk berkolaborasi mengatasi berbagai problem performance  secara point to point berbagai permasalahan disekolah sehingga sekolah tumbuh menjadi sekolah penggerak.

Level- level Logika pikiran seorang Coach

1. Level coach sebagai pemandu/fasilitator

Sebagai pemandu Coach  berperan menyediakan dukungan yang berhubungan dengan lingkungan dimana perubahan sedang akan berlangsung (lingkungan kapan dan dimana). 
Dia mengantarkan individu atau TIM ( SDM disekolah) dalam perjalanan dari kondisi sekolah saat ini (present state) menuju kondisi sekolah yang diinginkan (desire state). 

Dan tentunya pemandu (cek aja seorang pemandu wisata) adalah orang yang sudah pernah menempuh perjalanan tersebut, sehinga tahu pasti apa yang akan terjadi dan dilalui serta apa yang menantikan mereka di tempat tujuan.  

Sedangkan sebagai fasilitator (care taker)  coach menyediakan fasilitas  yang mendukung proses perubahan dalam mencapai kondisi yang diinginkan (desire state), dia menjamin perubahan berlangsung aman, tersedianya segala sumber daya yang dibutuhkan dalam suatu proses transformasi perubahan.

2. Level coach sebagai pelatih

Yaitu melatih bagaimana menyelesaikan tugas dan meningkatkan kinerja, coaching yang dikembangkan dalam dunia olahraga, peran pelatih adalah membantu individu /tim (coachee) memaksimalkan kinerja yang melibatkan perilaku /sikap tertentu sehingga tercapai kompetensinya (conscious competence)

Dalam dunia Pendidikan sama saja dengan dunia olah raga atau dunia bisnis manajemen, tujuannya sama yaitu membantu klien meningkatkan kapabilias (kompetensi dan kecakapan)  misalnya kompetensi sebagai guru professional, menguasai  materi ajar ,Teknik dan metode serta pendekatan dalam proses pengajaran, ,assesmen dan penilaian , tool-tool yang mendukung proses pembelajaran seperti ICT, dan digitalisasi pembelajaran, managemen siswa dan kelas, manajemen sekolah dan lain sebagainya 

3. Level coach sebagai pengajar

Coach  sebagai pengajar/teacer adalah membantu individu/tim meningkatkan keterampilan dan kapabilitas kognitif atau yan gbersifat intellectual. Diman tujuan pembelajaran pada umumnya  untuk meningkatkan kompetensi atau kecerdasan berpikir, berfokus pada penguasaan kecakapan kognitif umum dan tidak dituntut untuk terlalu memperhatikan kinerja-kinerja coachee secara spesifik pada situasi tertentu.

Proses pembelajaran lebih kepada pengenalan pembelajaran baru dan tidak dimaksudkan untuk meningkatkan maupun memperbaiki kinerja sebelumnya.
Pengajar adalah dia yang melakukan tranfer knowledge, dari tidak tahu menjadi tahu dari tidak bisa menjadi bisa. 

Tentunya definisi coach sebagai pengajar akan berbeda jika sebagai pendidik.

4. Level coach sebagai mentor

Sebagai mentor coach memandu staf /individu/tim untuk menemukan unconscious competencies  dengan mengubah keyakinan yang menghambat guru/kepala sekolah/staff (limiting belief) menjadi keyakinan yang memberdayakan (empowering belief) sehingga dapat mencapai tujuannya (goal).

Bedanya dengan coach sebagai pengajar, mentor tidak mengajar/melatih staff/coachee/guru/kepala sekolah melakukan pekerjaannya namun ia akan memberikan kepercayaan penuh pada kemampuan coachee untuk mencapai goal yang di intensikannya.

Mentoring adalah proses membantu staf/tim/guru dan kepala sekolah (coachee) untuk menginternalisasikan system keyakinan dan nilai-nilai positifnya sehingga coachee dapat menemukan dan menggunakan kebijaksanaannya (wisdom) sendiri. 

Walaupun tidak selalu hadir secara fisik, sebab ia bisa merasakan kehadiran mentor dengan nilai-nilai dan pesan-pesan moral yang telah diciptakannya. Ia mampu menciptakan suasana dan lingkungan kerja yang kondusif sehingga coachee bisa bekerja secara maksimal.
Sehingga pada diri coachee akan  lahir motivasi diri dalam menjawab dan mengatasi  segala tantangan dan persoalan rumit  dalam pengelolaan perusahaan (sekolah) akibatnya terbentuklah ekosistem  staff disini guru dan kepala sekolah penggerak, yang  bermuara pada terbentuknya sekolah penggerak.

5. Level coach sebagai Sponsor

Sponsor adalah orang yang memberikan dukungan secara sukarela dan tidak terlibat secara langsung dan dukungan yang diberikan semata-mata karena percaya kepada orang-orang yang meminta sponsornya.

Sponsor hadir mungkin karena kesamaan nilai-nilai (value) yang diusung atau visi dan misi yang sama. Sponsor mempercayai dan menghargai orang-orang yang disponsorinya, sebagai pribadi yang istimewa.

Seorang staff (guru dan kepala sekolah)  yang bekerja dibawah manajer (coach) yang memberikan sponsorship secara positif staff (guru dan kepala sekolah) akan merasakan eksistensinya, perhatian dan merasa diterima.pendapatnya di perhatikan dan peran sekecil apapun mendapat tempat, sehingga semuanya mendapatkan pengakuan yang special, sehingga mengeliminir sikap saling cemburu dan prasangka buruk kepada staf lainnya  dan tidak perlu cemas ada yang menusuk dari belakang.

Efeknya setap orang mampu focus pada peningkatan prestasi dan memberi kontribusi yang maksimal.
Dengan coaching yang dilakukan diharapkan oleh kemdikbud adalah terciptanya ekosistem sekolah yang kompetitif dalam prestasi dengan nilai-nilai kolaborasi dan  maju bersama yang bermuara pada lahirnya prestasi maksimal sehingga goalnya adalah terbentuknya guru penggerak, kepala sekolah penggerak dan sekolah penggerak. 

6. Level coach sebagai pembangkit kesadaran

Sebuah amaliah yang didasari oleh nilai-nilai luhur spiritual, akan melahirkan sebuah gerakan yang besar.  Seorang coach yang berperan sebagai pembangkit kesadaran bukanlah hanya mengandalkan kemampuan narasi dan kata-katanya tapi ia tunjukkan dengan contoh dan kepribadian yang terintegrasi dalam dirinya dengan baik, sehingga menjadi anutan dan uswah para staffnya.

Pancaran nilai-nilai luhur spiritual inilah yang harus dimunculkan Sehingga ia mampu menemukan solusi-solusi yang dibutuhkannya, coachee tanpa dikomando dan diawasi secara melekatpun akan melakukannya. Karena nilai diri (spiritualitas) yang dipegangnya akan merangkai tingkah lakunya.

Sebuah perubahan /tranformasi akan tetap melekat dan kekal manakala lahir dari nilai-nilai spiritualitas. Mereka akan bekerja bukan hanya sebatas nilai-nilai pragmatis saja tapi sudah didasari dengan nilai-nilia luhur yang akan mengangkatnya kedalam kemuliaan dunia dan akhirat. 

maju terus pendidikan Indonesia


Sumber Reff :

  • Julia, Kok Erni.2015.Coaching Gennius, karies sukses luar biasa hidup semakin bahagia.PT Gramedia Pustaka Utama.Jakarta

Ai Deti Heryanti
Ai Deti Heryanti Guru IPA SMPN 4 SUMEDANG,

Post a Comment for "Pendekatan Coaching Didunia Pendidikan dalam Program Sekolah Penggerak Kemdikbud 2021"

Menginformasikan seputar Pendidikan, Forum Ilmiah,Lesson Study, Jurnal dan Publikasi ilmiah,sebagai wahana terus belajar sepanjang hayat.
mohon maaf atas ketidaknyamanan tampilan blog dikarenakan masih ada kendala perbaikan id dalam verifikasi id google adsense,
Video dan atau Gambar di situs www.gurusumedang.com kadang berasal dari sumber media lainnya, HAK CIPTA sepenuhnya dipegang media tersebut.

Dapatkan artikel otomatis via Email