Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ridho Terhadap Ketentuan Allah SWT

Penulis : Mamat Heyatudin, guru SMPN 4 Sumedang berjudul : Kita ridho terhadap ketentuan Allah SWT dan Allah pun ridho terhadap kita. Tulisan ini diawali dari sebuah pertanyaan seorang siswa ; 
  • Apa yang dimaksud kita ridho terhadap ketentuan Allah dan Allah ridho terhadap kita? 
  • dua variabel itu kesatuannya seperti apa? contohnya seperti apa dalam kehidupan?
  • dan apakah dalam kehidupan bisa saja hanya terjadi salah satu dari dua variabel tersebut ?. 

Ridho, bentuk Masdar dari kata radhiya yardho berarti rela menerima dengan senang hati, merasa cukup atau lapang.   Dengan demikian Ridho itu: Sikap /keadaan mental untuk menerima kenyataan yang dibarengi dengan anggota tubuh yang berusaha untuk mencapai keadaan yang lebih baik.   Misal:  Diciptakan nya kita seperti ini, hidung tidak mancung kulit yang kurang putih, postur tubuh yang kurang tinggi dll...lalu kita mencibirnya keadaan seperti itu. pertanyaannya: akankah berubah keadaan seperti itu dengan mencibir?... Jawabannya tentu tidak bukan?.....   Hidup ini bukan keinginan kita tetapi Allah-lah yang menentukan segala galanya bukankah Allah ketika meciptakan kita sudah ditentukan kadarnya dan dibentuk dengan sebaik-baiknya penciptaan?.... Artinya ketika Allah menciptakan manusia sudah dilengkapi dengan berbagai potensi.   Ketika kita bisa menerima dengan lapang dada keadaan seperti ini dan kita berusaha sekuat tenaga untuk memanfaatkan segala potensi yang ada pada diri kita sehingga kita bisa mencapai puncaknya dengan tidak menyalahkan keadaan maka itu bisa dikatakan ridho atas ketentuannya dan ketika kita ridho terhadap ketentuannya maka Allah pun ridho terhadap kita dengan segala usaha yang kita lakukan.   Bisa dibilang "Allah pun senyum " Karena Allah Ridho terhadap hambanya, melihat dan menyukai hambanya ketika menerima segala ketentuannya.  Ridho atas segala ketentuan Allah dapat menjadi obat hati yang dapat menangkal berbagai macam penyakit hati.

Ridho, bentuk Masdar dari kata radhiya yardho berarti rela menerima dengan senang hati, merasa cukup atau lapang. 

Dengan demikian Ridho itu: Sikap /keadaan mental untuk menerima kenyataan yang dibarengi dengan anggota tubuh yang berusaha untuk mencapai keadaan yang lebih baik. 

Misal: 
Diciptakan nya kita seperti ini, hidung tidak mancung kulit yang kurang putih, postur tubuh yang kurang tinggi dll...lalu kita mencibirnya keadaan seperti itu. pertanyaannya: akankah berubah keadaan seperti itu dengan mencibir?... Jawabannya tentu tidak bukan?..... 

Hidup ini bukan keinginan kita tetapi Allah-lah yang menentukan segala galanya bukankah Allah ketika meciptakan kita sudah ditentukan kadarnya dan dibentuk dengan sebaik-baiknya penciptaan?.... Artinya ketika Allah menciptakan manusia sudah dilengkapi dengan berbagai potensi. 

Ketika kita bisa menerima dengan lapang dada keadaan seperti ini dan kita berusaha sekuat tenaga untuk memanfaatkan segala potensi yang ada pada diri kita sehingga kita bisa mencapai puncaknya dengan tidak menyalahkan keadaan maka itu bisa dikatakan ridho atas ketentuannya dan ketika kita ridho terhadap ketentuannya maka Allah pun ridho terhadap kita dengan segala usaha yang kita lakukan. 

Bisa dibilang "Allah pun senyum " Karena Allah Ridho terhadap hambanya, melihat dan menyukai hambanya ketika menerima segala ketentuannya. 
Ridho atas segala ketentuan Allah dapat menjadi obat hati yang dapat menangkal berbagai macam penyakit hati.

Dilihat dari penjelasan diatas korelasinya sudah nampak kita tidak bisa menuntut Allah sekeingin kita tetapi kita menunaikan kewajiban terlebih dahulu kemudian haknya bakal kita Terima. iyyakana'budu waiyyakanasta'in

Kita tidak bisa menyalahkan keadaan.... Yang diwajibkan bagi kita adalah berusaha. Sangatlah tidak mungkin tanpa berusaha kita bisa mendapatkan yang kita inginkan. 

Misalnya ketika seseorang ingin pintar tapi tidak belajar mungkinkah kepintaran dan kemahiran datang secara sendirinya?... Tentunya jawabannya tidak bukan?... 

Contoh lain, ketika kita ingin makan tapi kita hanya diam tanpa melakukan suatu tindakan mungkinkah makanan turun dari langit atau datang kehadapan kita?... Jawaban y tidak lagi bukan?... Artinya adanya keterkaitan antara Allah sebagai pemberi takdir dengan manusia yang diberi takdir. Segala sesuatunya tidak akan pernah terjadi secara serta merta. 

Jika kita memahami segala ketentuan Allah maka tidak akan pernah pasrah dengan keadaan tidak putus asa namun selalu berikhtiar dan bertawakal serta berprasangka baik selalu tertanam sikap optimis untuk mencapai serta meraih tujuan dan keinginan.

Merasa yakin akan kemaha adilan Allah apa yang dilakukan sudah disesuaikan dengan kemampuannya sehingga tidak mengeluh dan menyalahkan siapapun, selalu bersikap rendah hati tidak akan pernah ternanam rasa bangga diri sekalipun memiliki segudang prestasi karena yakin semua yang terjadi tidak pernah terlepas dari campur tangan Allah.

Selalu menganggap bahwa hal yang terjadi dan ada hanya sekedar mampir dan tidak lebih dari itu, menjaga setiap ucapan dan prilaku, setiap kata yang keluar dari lisannya adalah hikmah bukan hal yang sia-sia,  kita harus ingat bahwa kata-kata orang yang beriman itu laksana madu Indah untuk disimak dan didengarkan. 

Bukan menyesali karena prilaku diam tetapi menyesali setiap kata-kata dan pembicaraan. 
 
Lihatlah... Air dilautan.... 

Ombak tidak pernah menyalahkan angin yang bertiup dengan kencang.... dan angin pun tak pernah sombong ketika mereka dibutuhkan oleh segenap makhluk Allah.... Mereka tetap terjadi saling mengisi antara satu dengan yang lain nya. 

Begitupun dengan kita....  Setiap manusia yang diciptakan memiliki kekurangan dan kelebihan sejatinya kita ada bukan untuk saling caci dan merendahkan tetapi untuk saling menguatkan. Sebagaimana Allah dan RasulNya ajarkan bahwa, manusia diciptakan berbeda-beda tujuannya untuk saling mengenal dan bekerja sama. 

Semoga tulisan ini bisa dimengerti dan dipahami khususnya bagi penanya dan umumnya bagi pembaca. 
Mohon maaf atas segala kekurangannya. 
Wallohu a'lam bisshowab. 
"Meniti asa menggapai cita"

Penulis :
Ridho terhadap ketentuan Allah SWT

Panggil saja ADH
Panggil saja ADH "Hebatnya seorang guru karena mendidik, dan rekreasi paling indah adalah mengajar" (KH Maimoen Zubair)

1 komentar untuk "Ridho Terhadap Ketentuan Allah SWT"

Jangan lupa tinggalkan komentar sebagai alat silaturahmi dan jika bermanfaat bisa saudara share, komentar yang memasukan link judi dan hal lainnya yang tidak sesuai norma, akan langsung saya hapus. Terimakasih, Sukses Selalu

Guru Sumedang (GS) adalah praktisi Pendidikan yang berkomitmen untuk kemajuan dunia pendidikan. Artikel,Video dan atau Gambar di situs www.gurusumedang.com kadang bersumber dari media lainnya,GS akan berupaya menuliskan sumbernya, dan HAK CIPTA sepenuhnya dipegang media tersebut.