Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ada Apa dengan Anak Didik Ku ?



Ditulis Oleh :
Sri Novitasanti, S.Pd /Guru  SMPN 2 Cimalaka Sumedang

Pembelajaran yang dilaksanakan pada saat pandemi covid saat ini memang dirasakan kurang kondusif. Berbeda dengan pembelajaran tatap muka, belajar di rumah memang memiliki banyak permasalahan. Salah satunya adalah tidak semua siswa dapat belajar secara maksimal. 

Disini saya akan mencoba berbagi sedikit cerita mengenai pengalaman saya sebagai wali kelas di masa pandemi ini. 

Berawal dari pertemuan antara beberapa guru-guru mata pelajaran di sekolah,  saat itu kami mencoba mengevaluasi hasil pembelajaran siswa selama beberapa bulan terakhir. Setiap guru mata pelajaran berembuk berdiskusi membahas evaluasi belajar siswa di rumah. Kami mencoba mengamati hasil pembelajaran siswa baik berupa kehadiran siswa maupun dari hasil pekerjaan tugas-tugas pembelajaran yang dikirimkan oleh siswa kepada kami selaku guru.

Saat itu saya menerima laporan dari beberapa orang guru bahwa anak didik saya ada yang bermasalah. Dan permasalahannya adalah mereka tidak pernah mengikuti pembelajaran, hal ini dapat dilihat dari kehadiran, mereka jarang mengisi absen pada saat pembelajaran dan bahkan tidak pernah mengirimkan tugas-tugas yang diberikan oleh Bapak Ibu guru selama 2 bulan terakhir. Memang tidak semua siswa yang bermasalah, namun hanya beberapa siswa saja. Dan saya menerima laporan dari beberapa guru mata pelajaran yang semua nya melaporkan nama-nama siswa yang sama yaitu empat orang siswa, sebut saja siswa A, siswa B, siswa C dan siswa D. 

Dari permasalahan diatas saya mencoba mencari tahu apa yang menjadi penyebab dari ke empat siswa itu tidak mengikuti pembelajaran. Apakah mereka malas? Ataukah mereka merasa jenuh belajar di rumah? Atau ada alasan lain? Jujur saja saya merasa sangat kecewa kepada anak didik saya setelah menerima beberapa laporan dari guru-guru lain. Tapi walau bagaimana pun juga mereka anak didik saya, mereka anak-anak saya. 

Baik buruknya pembelajaran siswa adalah tanggung jawab guru di sekolah. Guru bukan hanya berprofesi sebagai pengajar saja, namun guru juga sebagai orangtua dari siswa di sekolah yang berkewajiban untuk mendidik anak didik nya menjadi manusia yang baik. Atas dasar itulah hati saya tergerak untuk mencari tahu apa yang menjadi penyebab dari permasalahan diatas. Sebagai seorang ibu, pastilah berusaha  yang terbaik untuk anak-anak nya

Sebelumnya saya sudah berusaha menghubungi siswa A, B, C dan D via telpon, saya mencoba mengirimkan pesan  via whatsapp. Disitu saya bertanya, “kenapa akhir-akhir ini tidak mengikuti pembelajaran? Apa alasannya?” Siswa A menjawab “ Maaf bu, saya baru pulang dari luar kota, jadi tidak pernah mengirimkan tugas “. Siswa B hanya menjawab singkat “ Iya, maaf bu...”. Sedangkan siswa C dan siswa D tidak menjawab, bahkan pesan yang saya kirim tidak terkirim. Dalam pikiran saya mungkin siswa C dan siswa D tidak punya kuota.
Tiga hari setelah itu , saya  melakukan Home Visit kepada ke empat siswa tadi. Pertama saya mengunjungi rumah siswa C, ternyata rumah nya sangat sederhana sekali. Di rumahnya hanya ada nenek  dan kakak nya, kebetulan saat itu orang tua dari siswa C sedang ke sawah, karena pekerjaan mereka adalah petani. Saat itu saya langsung bertanya kepada siswa C kenapa tidak mengikuti pembelajaran? Dan jawabnya adalah “ HP saya rusak bu, sudah berusaha dibetulkan tapi tidak bisa”.

Sama halnya dengan alasan siswa C tadi, siswa D juga memberikan alasan yang sama. Dia juga tidak memiliki HP untuk belajar. Dan melihat kondisi ekonomi keluarganya, saya berpikir bahwa jangankan membeli HP baru, untuk memenuhi kebutuhan hidup saja mungkin sulit. Dari permasalahan kedua siswa tadi saya mencoba memberikan solusi kepada mereka untuk belajar kelompok. Mereka bisa meminta bantuan kepada teman yang lainnya yang memiliki HP. Mereka bisa mengikuti pembelajaran melalui HP temannya.

Setelah itu masih pada hari yang sama, saya pergi mengunjungi rumah siswa A.
Berbeda dengan permasalahan yang dimiliki siswa C dan D, siswa A ini justru memiliki HP.
Bahkan sering saya mengamati, siswa ini tiap hari aktif update status di whatsapp.
Pada saat saya mengunjungi rumahnya, tampak di teras rumahnya seorang wanita dewasa
yang tengah duduk.
Dan ternyata  dia adalah ibu dari siswa A. Pada saat itu saya berusaha menjelaskan secara
perlahan kepada Ibu dari siswa A bahwa putranya tidak mengikuti pembelajaran beberapa
bulan terakhir.
Dan setelah mendengar penjelasan itu, membuat beliau marah. Dengan nada suara yang tinggi,
kata-kata yang kasar beliau langsung memarahi putranya. Dan tentu saja hal ini membuat saya
menjadi tidak nyaman, padahal saya hanya ingin memberikan informasi saja bagaimana  putranya
selama belajar di rumah dengan maksud mencari tahu apa yang menjadi penyebab nya.
Bukan ingin melihat putranya diperlakukan kasar. 
Sedikit cerita bahwa orang tua dari siswa A sudah lama berpisah. Dan siswa A ini memiliki 
1 orang kakak dan 3 orang adik, Jadi siswa A anak ke 2 dari 5 bersaudara. Ibu nya bekerja 
seorang diri dan sering pulang larut malam, dan terkadang siang hari pun ibu nya bekerja. 
Sehingga mungkin siswa A ini tidak memiliki waktu untuk belajar karena harus menjaga adik-adiknya. 

Dan karakter ibunya yang kasar membuat siswa A ini menjadi anak yang pendiam dan tertutup. Pada saat saya berusaha berbicara berdua dengan siswa A, memang ibunya sering marah-marah di rumah, dia sering diperlakukan kasar. Terlihat jelas siswa A ini seperti tertekan dan mempunyai beban. Pantas saja saya sering melihat postingan status whatsapp nya tentang “Ibu...” tapi dalam postingan nya tidak pernah menjelek-jelekan tentang ibu. 

Namun, tentang kebaikan seorang ibu, kata-kata mutiara tentang ibu. Dalam hal ini jelas berbanding terbalik dengan kenyataan nya. Mungkin  dalam hatinya dia merindukan sosok ibu yang lembut, sosok ibu yang perhatian dan penyayang. Bukan lah seorang ibu yang kasar dan sering memarahinya. Dan tentu saja hal ini membuat hati saya tersentuh.

Dengan  membelai rambutnya dan mengelus-ngelus pundaknya, saya berkata .. “ Nak, mulai sekarang belajar yang rajin yaaa.... jadi anak baik, jadi anak soleh. Kalau kamu berusaha menjadi anak yang baik, ibu mu juga pasti akan memperlakukan mu dengan baik. Dan jika ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan, kamu bisa menghubungi ibu, kamu bisa menceritakannya ke ibu yaa... Karena Ibu juga orang tua kamu” Dan dia pun mengangguk pelan, tanpa berkata sepatah kata pun. 

Dari kondisi siswa A terlihat jelas bahwa perilaku orang tua di rumah sangat mempengaruhi psikologi anak. Kasih sayang dan perhatian dari orang tua sangat penting bahkan menjadi prioritas bagi anak. Bukan hanya kebutuhan fisik saja namun kebutuhan psikis anak sangatlah perlu diperhatikan. 
Jika keadaan di rumah nya saja sudah tidak nyaman, bagaimana anak bisa belajar?

Sama halnya dengan siswa A, permasalahan yang dihadapi oleh siswa B hampir sama.
Namun dia tidak pernah diperlakukan kasar oleh orang tuanya, namun kedua orang tuanya
juga berpisah.

Dia tinggal bersama ayah dan nenek nya, sedangkan ibunya di luar kota karena sudah
menikah lagi. Dan keadaan ekonomi keluarganya  pun sangat memprihatinkan. 
Jadi dalam hal ini saya mencoba menyimpulkan bahwa ada beberapa faktor yang menjadi
penyebab kenapa siswa tidak bisa mengikuti pembelajaran, kenapa siswa tidak pernah
mengerjakan ataupun mengirimkan tugas-tugas yang diberikan oleh Bapa Ibu guru.
Kita tidak bisa memvonis siswa tersebut malas atau siswa tersebut tidak mau belajar.

Kita harus bisa mencari penyebab nya, berusaha mencari solusinya. Ternyata mereka memiliki
masalah dibalik permasalahannya. Keadaan ekonomi keluarga dan perhatian dari orang tua lah
yang menyebabkan permasalahan itu terjadi. Dan yang paling penting dalam hal ini  adalah
bagaimana kita menyikapi permasalahan dari anak didik kita. Untuk situasi seperti saat ini
jangan hanya menjadikan anak didik kita menjadi pintar saja, namun berusahalah menjadikan
anak didik kita menjadi manusia cerdas. Cerdas dalam menghadapi hidup.
Jadikan anak didik kita menjadi manusia yang bermanfat bagi orang banyak.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat, dan mohon maaf apabila ada kata-kata yang tidak 
berkenan di hati.


Panggil saja ADH
Panggil saja ADH "Hebatnya seorang guru karena mendidik, dan rekreasi paling indah adalah mengajar" (KH Maimoen Zubair)

Posting Komentar untuk " Ada Apa dengan Anak Didik Ku ?"

Guru Sumedang (GS) adalah praktisi Pendidikan yang berkomitmen untuk kemajuan dunia pendidikan. Artikel,Video dan atau Gambar di situs www.gurusumedang.com kadang bersumber dari media lainnya,GS akan berupaya menuliskan sumbernya, dan HAK CIPTA sepenuhnya dipegang media tersebut.