Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pendekatan Pembelajaran Berbasis Riset

Pendekatan Pembelajaran Berbasis Riset. Di era Revolusi Industri 4.0, sistem pendidikan diharapkan dapat mewujudkan pelajar yang memiliki keterampilan dan kemampuan dalam berfikir kritis, memecahkan masalah, kreatif dan inovatif serta memiliki kemampuan dan keterampilan dalam mencari, mengelola dan menyampaikan  informasi serta trampil menggunakan informasi dan teknologi (Keterampilan komunikasi)  dan kolaborasi.

Pendekatan Pembelajaran Berbasis Riset. Di era Revolusi Industri 4.0, sistem pendidikan diharapkan dapat mewujudkan pelajar yang memiliki keterampilan dan kemampuan dalam berfikir kritis, memecahkan masalah, kreatif dan inovatif serta memiliki kemampuan dan keterampilan dalam mencari, mengelola dan menyampaikan  informasi serta trampil menggunakan informasi dan teknologi (Keterampilan komunikasi)  dan kolaborasi.

Melalui pendekatan pembelajaran berbasis riset, Keterampilan tersebut bisa diwujudkan karena proses pembelajarannya berpusat pada peserta didik, dengan bahasa lain Ki Hajar Dewantara mengatakan : "pendidikan berhamba pada anak." 

Pembelajaran yang terbaik bukanlah pada seberapa banyak konten materi yang dapat disampaikan dan diserap oleh pelajar, tapi sejauhmana pelajar dapat terlibat aktif dalam proses pembelajarannya tersebut, dan tidak lain melalui pendekatan pembelajaran berbasis riset.

Dengan demikian guru harus memperhatikan capaian, tingkat kemampuan, kebutuhan pelajar sebagai acuan untuk merancang pembelajaran, yang berpusat pada pelajar, yaitu keterlibatan pelajar dalam mengamati, mengajukan pertanyaan, mengajukan hipotesis, memilih dan mengelola informasi, merencanakan dan melaksanakan aksi serta melakukan releksi diri terhadap proses belajar yang dialami. 

Dan model pembelajaran aktif dimana strategi pembelajarannya berpusat pada siswa salah satunya adalah pembelajaran Inkuiri dengan pendekatan pembelajarannya berbasis riset.

Inkuiri merupakan model pembelajaran yang membantu pelajar menumbuhkan keingintahuannya terhadap fenomena disekitar /lingkungan pelajar, yang mana keingintahuan yang tumbuh ini diharapkan dapat memicu pelajar untuk memahami bagaimana fenomena itu terjadi dan mempergunakannya dalam kehidupannya.

Dari pemahaman yang didapat kemudian digunakanya  untuk melakukan suatu rekayasa sehingga tercipta teknologi yang dapat menjadi solusi dan jalan keluar dari berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat dan lingkungannya secara berkelanjutan.

Ketua Pokja Pendidikan Guru Penggerak Dr. Kasiman menjelaskan tentang adaptasi desain pembelajaran siklus inkuiri dan menekankan pendekatan pembelajarannya harus berbasis riset (melalui proses riset ) sehingga pembelajarannya tidak sebatas teori saja (https://twitter.com/kspstk_gtk)

Anda juga bisa mendalami lebih lanjut tentang Model Pembelajaran Inkuiri dan bagaimana langkah-langkah proses pembelajarannya dalam Sintaks 5 model pembelajaran 

Pendekatan Pembelajaran Berbasis Riset di Mata Pelajaran IPA

a. Pemahaman IPA

Pelajar memiliki kompetensi berpikir ilmiah jika pelajar memiliki pemahaman Sains yang utuh. Kemampuan berpikir akan berdampak progresif bagi pengembangan ilmu pengetahuan jika seseorang memiliki pemahaman bidang keilmuan tertentu. 

Bernalar kritis dalam pemahaman cakupan konten merupakan hal yang diharapkan dari pelajar. Pemahaman IPA selalu dapat dikaitkan dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS).

Karenanya, dalam mencapai kompetensi itu pelajar diharapkan memiliki pemahaman konsep Sains yang sesuai dengan cakupan setiap konten dan perkembangan jenjang belajar. 

Pemahaman atas cakupan konten yang dibangun dalam diri pelajar haruslah menunjukkan keterkaitan antara Biologi, Fisika dan Kimia. 

Akibatnya, pelajar memahami Sains secara menyeluruh untuk cakupan konten tertentu. Pemahaman ini meliputi kemampuan berpikir sistemik, memahami konsep, hubungan antar konsep, hubungan kausalitas (sebab-akibat) serta tingkat hierarkis suatu konsep.

b. Keterampilan Proses

Pelajar perlu mengasah keterampilan berpikirnya sehingga pembelajaran yang dialaminya bermakna. Hal ini hanya bisa terjadi ketika pelajar terlibat penuh dalam pembelajarannya.

Oleh karena itu, penting bagi pelajar untuk memiliki keterampilan, yang menekankan penyelidikan dan penemuan dalam mempelajari IPA, sehingga ia bisa mencari tahu dan menemukan solusi secara aktif terkait fenomena alam yang senantiasa mengalami perubahan.

Dalam Profil Pelajar Pancasila, disebutkan bahwa Pelajar Indonesia yang bernalar kritis mampu memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif secara objektif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi, dan menyimpulkannya. Dengan memiliki keterampilan proses yang baik maka profil tersebut dapat dicapai. 

Keterampilan proses adalah ruh dari pendekatan pembelajaran berbasis riset, merupakan sebuah proses intensional dalam melakukan diagnosis terhadap situasi, memformulasikan permasalahan, mengkritisi suatu eksperimen dan menemukan perbedaan dari alternatif-alternatif yang ada, mencari opini yang dibangun berdasarkan informasi yang kurang lengkap, merancang investigasi, menemukan informasi, menciptakan model, mendebat rekan sejawat 
menggunakan fakta serta membentuk argumen yang koheren (Linn, Davis, & Bell 2004). 

Proses inkuiri sangat direkomendasikan sebagai bentuk pendekatan dalam pengajaran karena hal ini terbukti membuat pelajar lebih terlibat dalam pembelajaran (Anderson, 2002).

Sedikitnya ada 9 keterampilan proses sains yang harus dikuasai yang bisa diimplementasikan dalam pendekatan pembelajraan berbasis riset siswa diantaranya :
  1. mengamati
  2. mengklasifikasi
  3. menyimpulkan
  4. mengkomunikasikan
  5. memprediksi
  6. mengidentifikasi variabel
  7. menafsir /menginterpretasikan data
  8. merumuskan hipotesis
  9. eksperimen
Berbekal pemahaman terhadap Sains yang menyeluruh dengan pendekatan pembelajaran berbasis riset pelajar diharapkan dapat memanfaatkan kompetensinya untuk berkontribusi menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. 

Anda bisa lanjut perdalam keterampilan proses sains pada artikel berikut ini :
Kompetensi yang dimiliki ini perlu diarahkan untuk sebuah tujuan yang lebih mulia agar proses belajar dapat lebih bermakna. 

Kesulitan guru dan Siswa dalam Model dan Pendekatan Pembelajaran berbasis Riset

a. Kesulitan guru dan Siswa dalam Model dan Pendekatan Pembelajaran berbasis Riset

Lisa Rahmawati dkk (2020) dalam pemaparannya tentang faktor-faktor kesulitan guru dan siswa dalam pembelajaran yang  menerapkan pendekatan saintifik/pendekatan berbasis Riset, menyebutkan bahwa guru kesulitan menerapkan model dan strategi pembelajaran riset/saintifik dikarenakan :
  1. Pemahaman, kurangnya pemahaman guru mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pendekatan saintifik (pembelajaran berbasis riset) membuat beberapa kegiatan dalam pendekatan saintifik (pembelajaran berbasis riset )tidak berjalan dengan maksimal.  
  2. Persiapan, kurangnya persiapan yang matang dari guru dalam memulai pembelajaran berakibat kepada pembelajaran yang tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ada pada kurikulum 2013 tertama dalam proses pembelajarannya yaitu dengan menggunakan pendekatan saintifik.  
  3. Kreativitas, kurangnya kreativitas guru dalam mengembangkan pembelajaran yang bermakna, berkesan, dan bervariasi agar siswa menjadi tidak bosan, tidak jenuh, dan bersemangat dalam setiap pembelajaran yang guru berikan. Sehingga materi yang disampaikan oleh guru 

b. Kesulitan Siswa dalam Model dan Strategi Pendekatan Pembelajaran Berbasis Riset

  1. Persiapan, kurangnya persiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran membuat siswa menjadi tidak fokus dan mengikuti pembelajaran dengan seadanya tanpa mengharapkan dan mendapatkan ilmu yang seharusnya ia dapatkan.  
  2. Mental, kurangnya mental siswa dalam mengikuti pembelajaran membuat siswa menjadi tidak maksimal dalam menerima setiap pembelajaran yang diberikan oleh guru. Seperti keberanian untuk mengutarakan pendapat di depan teman-temannya. Hal ini disebabkan karena perasaan takut diejek, takut salah, dan  takut dimarahi yang timbul dari diri siswa.
Untuk itulah pembiasaan metode riset harus dimulai dari tingkatan rendah, dan mulai dari hal-hal sederhana yang berhubungan langsung dengan kehidupannya serta sesuai tingkatan level anak, menjadi langkah penting sehingga kesulitan-kesulitan tersebut bisa dihindari  baik oleh guru maupun peserta didik.
Adakah sekolah yang sepenuhnya menerapkan metode Riset dalam proses pembelajarannya ?

Sekolah yang menerapkan Metode Riset dalam seluruh proses pembelajarannya

Untuk menemukan sekolah yang berkomitmen dalam menerapkan pembelajaran berbasis riset bagai mencari jarum di dalam tumpukan jerami,  kalaupun ada pembelajaran yang berbasis riset hanya dilaksanakan dalam penelititan-penelitian dari lembaga-lembaga pendidikan atau guru yang membutuhkan karya tulis ilmiah untuk menunjang kenaikan pangkatnya saja, belum menjadi kebijakan sekolah dan metode pembelajaran yang familiar serta umum digunakan para guru.

Hal ini bisa kita pahami, dari poin kendala guru dan siswa yang sebelumnya saya paparkan. 

Untuk itu tidak salah kiranya kalau saya ajak sobat GS ke suatu sekolah yang tertelak di Nitiprayan Yogyakarta.

Sebuah sekolah yang lahir dari kegelisahan pendirinya pada proses pendidikan disekolah formal yang berdasarkan pengalamannya membelenggu tumbuh kembang murid.

Sekolah yang tidak semu dalam melibatkan orang tua untuk berperan aktif dalam proses belajar anak-anaknya sehingga tidak kehilangan hak asuh atas anak-anaknya, dimana orang tua benar-benar ditempatkan menjadi pendidik pertama dan utama.

Sekolah yang mengsinergikan alam lingkungan anak dimana keluarga, sekolah dan masyarakat  terasa nyata dalam proses belajar sesuai filosofi Kihajar Dewantara.

Sekolah yang menginisiasi praktik belajar yang memerdekakan  dengan pendekatan pembelajaran berbasis riset untuk seluruh proses pembelajarannya yang saat ini sedang diwujudkan dalam kurikulum merdeka. 

Dengan pendekatan-pendekatan yang memberi ruang murid untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya sesuai potensi yang dimilikinya.

Sebagaimana di katakan oleh Roem Topatimasang, pendiri INSIST, sekolah yang memupuk dan menumbuhkan kebiasaan ( sikap dan perilaku) " bertanya yang mempertanyakan", yang membedakan sekolah ini dengan sekolah formal lainnya.

Sejak usia dini disekolah ini dibiasakan bebas bertanya dan mempertanyakan, tidak ada pembatasan sama sekali, bahkan disekolah ini sudah tidak mengenal lagi mata pelajaran, pengkotak-kotakan ilmu yang membutakan seseorang untuk melihat unsur dasar lain dari sari pati pengetahuan, hubungan relasi antar berbagai hal yang membentuk pemahaman menyeluruh tentang sesuatu (Holistik). Sehingga murid-murid disekolah ini lebih akrab dan faham makna istilah riset.

Mereka melakukan dan mengalaminya sendiri, langsung dalam praktik sehari-hari, dimana teman-teman sebayanya disekolah-sekolah konvensional mungkin baru akan mendengar istilah itu nanti setelah mereka menjadi mahasiswa di perguruan tinggi.

Sanggar anak alam (SALAM), ya inilah namanya yang saat ini menjadi rujukan praktik belajar yang memerdekakan, tempat studi banding para praktisi pendidikan, mahasiswa yang berkunjung untuk melihat, mengamati, meneliti dan mengajukan pertanyaan terkait praktik  belajar yang memerdekakan berjalan.

SALAM didirikan oleh suami istri yaitu bpk Toto Rahadjo dan Sri Wahyaningsih (Wahya) yang terletak di pinggiran Yogyakarta tepatnya beralamat di Nitiprayan, kelurahan Ngestiharjo kabupaten Bantul.
 
Apa istimewanya sekolah ini ? dan bagaimana mereka menjadi sekolah yang memerdekakan para muridnya dengan menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis riset dalam pembelajarannya ?

SALAM merupakan sekolah yang menjadi rujukan kurikulum merdeka 2022, sehingga layak kalau kita meneropong lebih jauh apa yang terjadi di sekolah SALAM ini,

Mendengar saya lupa, melihat saya ingat, melakukan saya paham, menemukan sendiri saya kuasai -SALAM-

Implementasi Pendekatan Pembelajaran Berbasis Riset di SALAM

Model Riset di SALAM, diawali  dari perjalanan Wahya yang berhadapan dengan jumlah anak yang banyak dan tenaga pendidik yang sedikit, maka sejak itu digunakanlah olehnya pembelajaran riset.

Dengan pendekatan pembelajaran berbasis riset ini, anak-anak belajar berkelompok, bersentuhan langsung dengan sumber belajar, menemukan permasalahan, serta mencari solusinya.

Sehingga anak-anak  dapat menemukan pengetahuannya tanpa harus diajari dan dituntun, mereka menemukannya sendiri.

Pembelajaran berbasis riset di SALAM  bukanlah riset akademik atau riset sebagaimana para mahasiswa diperguruan tinggi, namun dimaknai sebagai proses penyelidikan, pengamatan, pencarian yang seksama dalam menemukan fakta, yang kemudian dijadikan dasar untuk menyusun pengetahuan baru dan diterapkan langsung sesuai permasalahan barunya tersebut.

Dengan pendekatan pembelajaran berbasis riset ini memberi efek positif pada anak-anak SALAM diantaranya :
  • rasa ingin tahu yang tinggi
  • mampu menyelesaikan permasalahan
  • berpikir secara sistematis
  • obyektif sesuai fakta
  • memiliki dasar pemikiran yang kuat

Lalu apa saja yang diriset anak-anak SALAM ?

Yang diriset anak-anak SALAM adalah apapun yang menarik minat mereka,  kemudian disesuaikan dengan jenjang pendidikan mereka. 

Sehingga proses pembelajarannya berlangsung secara kontekstual, yakni mendorong anak untuk belajar dari peristiwa yang dialaminya sehari-hari dalam kehidupannya.

Peristiwa belajar tersebut bisa muncul secara alamiah namun bisa juga peristiwa yang diciptakan.

Riset DI Kelompok Bermain dan TK 

Riset tidak ubahnya suatu perjalanan petualangan, sejak mereka menginjakkan kakinya dipematang sawah dan menyusur jalan, mereka memulai  petualangan belajarnya.

Karena ruang belajarnya tidak terbatas, dan tidak terbelenggu kelas, maka mereka banyak menemukan hal-hal yang menarik minatnya, disinilah riset dimulai.


Riset di kelompok SD

  • Kelas 1-3 SD; diberikan tema besar yang akan diangkat menjadi judul riset dan digunakan untuk proses belajar selama satu semester.  Tema-tema yang diangkat tidak jauh dari kehidupan mereka, misalnya mainan, tanaman, hewan, dan lain sebagainya
  • kelas 4-6 SD; Tema Riset mulai ditetapkan untuk perseorangan, sesuai kemampuan, kecenderungan, minat anak

Riset dikelompok SMP

Prinsipnya hampir sama dengan SD , dengan memperluas spektrum belajarnya
kemudian riset soal-soal ujian, dengan mencermati soal demi soal, mengelompokkan sesuai tema, mengkritisi soal, kemudian mengerjakan.

Riset di kelokmpok SMA

Ditingkat SMA  riset dilakukan selama empat semester dengan urutan berjenjang, dan semakin mengerucut mendekat minat dan bakat siswa.

Dari pengalaman ini SALAM menemukan bahwa semua riset yang dilakukan anak yang berangkat dari peristiwa sehari-hari, sangat membantu anak dalam memahami konsep rill, membuat mereka mengerti bagaimana menerapkan apa yang telah dipelajarinya dan bagaimana menggunakannnya untuk menghadapi permasalahan nyata didalam kehidupan.

Untuk mengetahui berbagai contoh dan metode riset yang dilakukan anak-anak SALAM serta bagaimana mereka menerapkan pembelajaran Tematik sehingga benar-benar meniadakan sekat-sekat mata pelajaran, dengan pendekatan Risetnya, dan dimana peran guru/fasilitatornya ? bisa anda temukan pada buku : SEKOLAH APA INI ?

Pengalaman pembelajaran berbasis riset tersebut dituangkan langsung oleh para pelakunya yaitu Gernatiti, Karunianingtyas Rejeki dan Sri Wahyaningsih (Wahya) dan dicetak oleh INSISTPress 2021 .

Untuk mengetahui berbagai contoh dan metode riset yang dilakukan anak-anak SALAM bisa anda temukan pada buku : SEKOLAH APA INI ? yang disusun oleh Gernatiti, Karunianingtyas Rejeki dan Sri Wahyaningsih (Wahya) dicetak oleh INSISTPress 2019.

Kesimpulan

Pendekatan Pembelajaran Berbasis Riset, adalah pembelajaran yang menuntut peserta didik untuk mampu menemukan dan  mengembangkan pengetahuan (mengekplorasi) dalam menyelesakan masalah yang dihadapi serta menguji kebenaran pengetahuan tersebut sehingga dapat berkontribusi menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dalam kehidupan

Disinilah pembelajaran bermakna didapat, dengan pendetakan pembelajaran berbasis riset anak mandiri belajar, mengolah dirinya sendiri,potensi dan kesulitan-kesulitannya serta kondisi psikologis yang menyertainya, serta menentukan (determine) sendiri belajarnya.(Heutagogi)

Artikel lain yang relevan dengan materi diatas :
Demikian sobat GS Pendekatan pembelajaran berbasis Riset, bagi yang mau memberikan sumbang saran dan praktik terbaiknya dalam pembelajaran berbasis riset, silahkan sampaikan dikolom komentar.Semoga bermanfaat

Sumber :
  • Gernatatiti dkk (2021). Sekolah Apa ini?.cet.3 Yogyakarta : InsistPress
  • Hardanie Budiyanti Dwi dkk. (2021) .Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMP Kelas VII (jil.1 ). Jakarta : kemdikbudristek.
  • Rahmayanti Lisa dkk .(2020). Analysis of teachers difficulty in Applying learning with the scientific Approach.Vol 9 No 1.Primary Jurnal Pendidikan guru sekolah dasar. UNRI.
Panggil saja ADH
Panggil saja ADH "Hebatnya seorang guru karena mendidik, dan rekreasi paling indah adalah mengajar" (KH Maimoen Zubair)

Posting Komentar untuk "Pendekatan Pembelajaran Berbasis Riset"

Guru Sumedang (GS) adalah praktisi Pendidikan yang berkomitmen untuk kemajuan dunia pendidikan. Artikel,Video dan atau Gambar di situs www.gurusumedang.com kadang bersumber dari media lainnya,GS akan berupaya menuliskan sumbernya, dan HAK CIPTA sepenuhnya dipegang media tersebut.